Al-Qur’an banyak mengisahkan proses kejadian manusia dari tidak ada menjadi ada, ketika roh menyatu dengan jasad dalam kehidupan di muka bumi, dan setelah roh dipisahkan dari jasadnya. Proses kejadian fisik manusia berawal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Setelah roh meninggalkan jasad, tugas dan peranannya sudah usai sebab masa beramal sudah habis dan masa penerimaan balasan dimulai.
Maka, apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya roh (ciptaan)-Ku, tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (Q.S Al Hijr: 29)
Sayyid Quthb menyatakan dalam Zhilal, “ itulah roh yang memindahkan struktur anggota badan yang hina pada cakrawala kemanusiaan yang mulia sejak awal penciptaan. Roh itu juga yang menjadikan manusia sebagai mahluk unik. Manusia diserahi kekholifahan dimuka bumi karena keunikan karakteristiknya sejak awal penciptaan.
Sayyid menambahkan,”tiupan roh inilah yang menjadikan manusia dapat berinteraksi dengan Al Malaul a’la (mahluk langit, para malaikat), menjadikannya berhak berhubungan dengan Allah dan menerima (ajaran)dari-Nya, membuatnya dapat melampaui lingkup materi yang menjadi poros interaksi anggota badan dan panca indra menuju lingkup abstrak yang menjadi medan interaksi hati dan akal, bahkan tiupan roh itulah yang memberikan rahasia tersembunyi yang mengalir dibalik setiap masa dan tempat, dibalik kemampuan berbagai otot dan pancaindra, serta membarikan barbagai macam pemahaman dan presepsi yang terkadang tidak terbatas”
Meski demikian, manusia tidak boleh mengabaikan fisik sebab kesempurnaan manusia adalah keseimbangan antara unsure-unsur tanah dan unsur-unsur langit.
MANUSIA MEMILIH POSISI DIRI
Manusia diberi kebebasan memilih salah satu jalan yang ditawarkan untuk menentukan posisi diri masing-masing. Sebagian mereka memosisikan diri sebagai orang yang beriman dan bertaqwa. Sementara itu, sebagian yang lain memosisiskan sebagai orang yag kafir ; baik Yahudi, Nasrani, Majusi, bahkan Munafiq.
…. Dan katakannlah,” Kebenaran itu datanya dari Rabb-mu; maka barang siapa yang ingin (beriman), hendaklah ia berimana dan barang siapa ingin (kafir), biarlah ia kafir….(Q.S. Al Kahfi; 29)
Selanjutnya, masing-masing kelompok mengembangkan potensi yang ada dalam diri dan lingkungannya untuk mempertajam dan memperkuat posisinya. Orang yang beriman memperkokoh keimanan dan ketakwaannya sehari-hari, menyebarkankepada orang yang ada di sekelilingnya, dan bersabar dalam melaksanakannya atau dengan kata lain, melakukan penghambaan secara total kepada-Nya.
Demi masa sesungguhnya, manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang yang mengamalkan amal sholeh dan nasihat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya tetap sabar (Q.S. Al’ashr: 1-3)
Seluruh aktivitas tersebut masuk dalam kategori Tazkiyatun nafs (menyucikan diri). Ibnu Katsir menafsirkan Surat Asy Syams: 9,” Ayat tersebut dapat dimaknakan,Sesungguhnya beruntung orang yang menyucikan jiwannya dengan melakukan ketaatan kepada Allah Swt”
QAtadah berkata,”….. dan menyucikan jiwanya dari ahlak-ahlak rendah dan hina.”
Ayat tersebut semakna dengan ayat, Sesungguhnaya, beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Rabb-nya, lalu dia shalat (Q.S. Al A’la: 14-15)
Orang kafir berusaha memperkokoh kekufurannya dengan menonaktifkan fungsi pendengaran, penglihatan, akal, dan nuraninya; mengikuti keinginan syahwat; melakukan kebodohan, kefasikan, penghianatan, kesombongan, dan kerusakan di muka bumi, baik kerukan material maupun spiritual, dan kemaksiatan-kemaksiatan lain.
Sikap-nsikap ini dapat mengotori jiwa, menutupi fitrah, bahkan merusaknya. Ibnu Katsir menafsirkan surat Asy Syams; 10,” mengotori jiwa artinya menelantarkan jiwanya dan menjauhkannya dari petunjuk hingga ia melakukan berbagai kemaksiatan dan meninggalkan ketaatan kepada Allah Swt.”
Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda, Sesungguhnya, seorang mukmin apabila berbuat dosa, didalam hatinya terdapat noda hitam. Apabila ia meninggalkannya, bertobat, dan beristighfar, hatinya menjadi cemerlang kembali. Akan tetapi, apabila ia menambah dosanya, bertambah pula noda hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah raan (kotoran yang menutup) yang disebutkan Allah Swt. Dalam kitab-Nya (Q.S. Al Muthaffifin: 14)(H.R. Baihaqi)



0 komentar:
Posting Komentar